Bersemayam dalam jiwamu.. hari demi hari semakin bertambah rasa ini..
setelah semua indah..tanpa alasan kau lakukan itu..Mengeluarkanku.. membuang..& terlupakan..!
Lalu aku berjalan sepi.. yg tak tau kemana ku bermuara..mengalir mengikuti air..! Mengambang...terombang ambing.. deras.. menghantam batu..lalu pecah tebelah.. & tenggelam.. berwarna kuning.
#itukah cinta untukku??
Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts
Saturday, March 23, 2013
APAKAH KAMU JATUH CINTA KEPADAKU?
Maukah kamu membawaku kedalam hatimu?
Lebih dalam lagi...
Bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?
Benarkah itu bentuk hatimu?
Indah Sekali!!
Tapi kenapa ada banyak sekali bentuk-bentuk wajah pria disini(didalam Hatimu)?
Mereka sangat rupawan...
Dan kenapa bentuk mereka hanya sebuah foto
yang berserakan di lantai dasar hatimu seperti sampah?
Dan Kenapa hanya ada satu gambar besar disana(dihatimu)?
Sepertinya itu sebuah "wallpaper"... Tunggu dulu...
Dan Kenapa "wallpaper" itu berbentuk wajah seperti aku?
(Setelah kuperjelas penglihatanku)
Ya! Bentuk wajah di "wallpaper" yang ada di hatimu itu AKU!!
Apakah kamu jatuh cinta kepadaku?
Lebih dalam lagi...
Bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?
Benarkah itu bentuk hatimu?
Indah Sekali!!
Tapi kenapa ada banyak sekali bentuk-bentuk wajah pria disini(didalam Hatimu)?
Mereka sangat rupawan...
Dan kenapa bentuk mereka hanya sebuah foto
yang berserakan di lantai dasar hatimu seperti sampah?
Dan Kenapa hanya ada satu gambar besar disana(dihatimu)?
Sepertinya itu sebuah "wallpaper"... Tunggu dulu...
Dan Kenapa "wallpaper" itu berbentuk wajah seperti aku?
(Setelah kuperjelas penglihatanku)
Ya! Bentuk wajah di "wallpaper" yang ada di hatimu itu AKU!!
Apakah kamu jatuh cinta kepadaku?
Puisi Raditya Dika
Kepada kamu,
Dengan penuh kebencian
Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi
dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online.
Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.
Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?
Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku
kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?
Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.
Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh.
Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu…, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.
Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, “Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,” harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”
Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.
Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu.
Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan…
Dengan penuh kebencian
Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi
dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online.
Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.
Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?
Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku
kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?
Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.
Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh.
Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu…, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.
Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, “Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,” harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”
Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.
Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu.
Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan…
Kamu
kipas angin tak mampu menggantikan sejuknya udara luar
hair dryer tidak mampu menggantikan hangatnya matahari
petikan gitar tidak mampu menggantikan merdunya kicauan burung
sinar lampu tidak mampu menggantikan indahnya aurora
tetapi kamu mampu menggantikan indahnya dunia
hair dryer tidak mampu menggantikan hangatnya matahari
petikan gitar tidak mampu menggantikan merdunya kicauan burung
sinar lampu tidak mampu menggantikan indahnya aurora
tetapi kamu mampu menggantikan indahnya dunia
Requiem Cinta
Sayang
Lihatlah merah tanganku ini
Ini bukan darah
Melainkan keringat cucuran nadi
Kasih
Hembusan nafas yang berderu
Bukanlah penanda akhir hdupku
Melainkan nafsu bersamamu dalam mimpi
Cinta
Rasakah kau dingin tubuh?
Peluklah aku dengan mesra
Agar kuindra harum tubuhmu
Lihatlah merah tanganku ini
Ini bukan darah
Melainkan keringat cucuran nadi
Kasih
Hembusan nafas yang berderu
Bukanlah penanda akhir hdupku
Melainkan nafsu bersamamu dalam mimpi
Cinta
Rasakah kau dingin tubuh?
Peluklah aku dengan mesra
Agar kuindra harum tubuhmu
Cinta dan waktu
Hidup indah telah hilang
Bagaikan langit malam tanpa bintang
Kulihat semuanya telah berlalu
Berlari ditinggal waktu
Tiada arti apa hidupku kini
Semuanya tidak ada harapan lagi
Kudengar tawa, tangis, dan canda
Di tengah manusia-manusia gila
Ku tak tahu pasti apa yang terjadi
Entah masih adakah kasih sejati
Atau cinta yang tak harus memiliki
Karena ku yakin tak akan ada yang abadi
Bagaikan langit malam tanpa bintang
Kulihat semuanya telah berlalu
Berlari ditinggal waktu
Tiada arti apa hidupku kini
Semuanya tidak ada harapan lagi
Kudengar tawa, tangis, dan canda
Di tengah manusia-manusia gila
Ku tak tahu pasti apa yang terjadi
Entah masih adakah kasih sejati
Atau cinta yang tak harus memiliki
Karena ku yakin tak akan ada yang abadi
Puisi Ulang Tahun
Chairil Anwar - Puisi Kehidupan
Hari hari lewat, pelan tapi pasti
Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru
Karena aku akan membuka lembaran baru
Untuk sisa jatah umurku yang baru
Daun gugur satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Umurku bertambah satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Tapi… coba aku tengok kebelakang
Ternyata aku masih banyak berhutang
Ya, berhutang pada diriku
Karena ibadahku masih pas-pasan
Kuraba dahiku
Astagfirullah, sujudku masih jauh dari khusyuk
Kutimbang keinginanku….
Hmm… masih lebih besar duniawiku
Ya Allah
Akankah aku masih bertemu tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
Akankah aku masih merasakan rasa ini pada tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
Masihkah aku diberi kesempatan?
Ya Allah….
Tetes airmataku adalah tanda kelemahanku
Rasa sedih yang mendalam adalah penyesalanku
Astagfirullah…
Jika Engkau ijinkan hamba bertemu tahun depan
Ijinkan hambaMU ini, mulai hari ini lebih khusyuk dalam ibadah…
Timbangan dunia dan akhirat hamba seimbang…
Sehingga hamba bisa sempurna sebagai khalifahMu…
Hamba sangat ingin melihat wajahMu di sana…
Hamba sangat ingin melihat senyumMu di sana…
Ya Allah,
Ijikanlah
Hari hari lewat, pelan tapi pasti
Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru
Karena aku akan membuka lembaran baru
Untuk sisa jatah umurku yang baru
Daun gugur satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Umurku bertambah satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Tapi… coba aku tengok kebelakang
Ternyata aku masih banyak berhutang
Ya, berhutang pada diriku
Karena ibadahku masih pas-pasan
Kuraba dahiku
Astagfirullah, sujudku masih jauh dari khusyuk
Kutimbang keinginanku….
Hmm… masih lebih besar duniawiku
Ya Allah
Akankah aku masih bertemu tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
Akankah aku masih merasakan rasa ini pada tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
Masihkah aku diberi kesempatan?
Ya Allah….
Tetes airmataku adalah tanda kelemahanku
Rasa sedih yang mendalam adalah penyesalanku
Astagfirullah…
Jika Engkau ijinkan hamba bertemu tahun depan
Ijinkan hambaMU ini, mulai hari ini lebih khusyuk dalam ibadah…
Timbangan dunia dan akhirat hamba seimbang…
Sehingga hamba bisa sempurna sebagai khalifahMu…
Hamba sangat ingin melihat wajahMu di sana…
Hamba sangat ingin melihat senyumMu di sana…
Ya Allah,
Ijikanlah
Subscribe to:
Posts (Atom)